Malam itu aku duduk di meja kecil, lampu temaram, segelas teh hangat di samping, lalu menulis surat kepada diri sendiri. Bukan surat panjang klise, cuma beberapa kalimat yang bilang, “Kau sudah cukup hari ini.” Rasanya aneh sekaligus lega. Sejak saat itu ritual itu jadi penolong kecil di hari-hari yang berisik—sebuah cara personal untuk merawat kesehatan mental tanpa harus merasa dramatis.
Kenapa sih harus nulis surat?
Tulis-menulis ke diri sendiri memaksa kita berhenti sejenak. Otak yang biasanya gesit menilai dan sibuk ngadat, diberi tugas sederhana: dengarkan dulu, kemudian jawab. Aku pernah skeptis, yah, begitulah—sulit percaya bahwa kata-kata sederhana bisa meredakan kecemasan. Ternyata, menuliskan kekhawatiran menurunkkan intensitasnya. Surat itu jadi semacam jembatan antara emosi dan logika; membantu memetakan apa yang sebenarnya bikin stres.
Apa yang bisa kau tulis? (Buat yang bingung)
Mulai dari tiga hal: ucapan terima kasih, pengingat lembut, dan tindakan kecil esok hari. Contoh: “Terima kasih sudah bertahan hari ini. Napasmu sudah cukup. Besok fokus satu tugas selama 25 menit.” Tidak perlu puitis. Seringkali tulisan terpenting hanya berupa izin untuk istirahat atau pengakuan bahwa kita nggak harus sempurna. Surat itu bisa menampung rasa takut, rencana, bahkan lelucon konyol—apa saja yang membuatmu merasa manusiawi.
Kunci praktisnya: buat format yang bisa diulang. Aku memakai tiga baris: satu syukur, satu pengingat, satu aksi kecil. Sederhana, mudah diulang, dan memberi rasa kontrol tanpa menambah beban. Lama-kelamaan, ketika gelombang stres datang, surat itu menjadi anchor yang mudah diakses—bisa dibaca ulang di telepon atau sobek lalu dibakar (opsional, bukan saran psikologis resmi).
Lakukan ini setiap pagi — cuilan motivasi harian
Sebelumnya aku pikir ritual pagi harus panjang: meditasi satu jam, yoga, sarapan sehat. Nyatanya cukup lima menit untuk menulis satu surat pendek. Pagi adalah waktu terbaik karena pikiran agak jernih; kalau malam, biasanya sudah penuh drama. Dengan surat singkat, aku menetapkan nada hari itu: lembut tapi tegas. Ini bukan mantra ajaib, tapi pengingat bahwa kita punya pilihan kecil setiap jam.
Selain menulis, kombinasikan dengan napas tiga kali, minum segelas air, dan bergerak sedikit. Praktik mikro ini membantu menurunkan hormon stres secara perlahan; tubuh memberi sinyal pada otak bahwa “okay, aman.” Manajemen stres bukan soal menghilangkan masalah, tapi mengelola respon kita terhadap masalah itu. Surat untuk diri sendiri membantu merekayasa respon itu.
Bukan sulap, cuma konsistensi
Aku nggak mau berlebihan bilang surat itu menyembuhkan semua luka, tapi ia mengubah cara aku merespon hari-hari berat. Ada satu periode pekerjaan yang bikin jantung sering deg-degan; setiap pagi aku tulis dan baca surat singkat itu sebelum membuka email. Lama-lama deg-degan berkurang, dan aku mulai memandang masalah dengan jarak. Bukannya ga stress, tapi kemampuan mengelolanya meningkat. Konsistensi kecil lebih ampuh daripada motivasi besar sekali-sekali.
Kalau kamu butuh referensi lebih lengkap atau inspirasi gaya menulis, pernah nemu beberapa ide bagus di rechargemybattery yang bisa jadi referensi ringan untuk ritual perawatan diri. Pilih yang cocok dengan ritme hidupmu, jangan paksa mengikuti tren orang lain.
Jadi, coba tantang diri: tulis surat untuk dirimu sendiri malam ini atau besok pagi. Mulai kecil, jangan perfeksionis. Nanti kalau sudah rutin, surat itu akan terasa seperti pelukan sederhana dari masa depan ke masa kini. Dan kalau ada hari-hari yang buruk—baca kembali surat-surat itu. Kadang jawaban paling lembut datang dari tangan kita sendiri.
Selamat menulis, dan semoga ritual kecil ini jadi teman setia di hari-harimu. Kalau aku? Aku masih menulis, masih membaca, dan masih belajar memberi izin untuk istirahat. Yah, begitulah—sedikit langkah kecil bisa membuat stres menciut, pelan tapi pasti.